Showing posts with label Belajar Puisi. Show all posts
Showing posts with label Belajar Puisi. Show all posts

Tuesday, September 2, 2014

Puisi Baiknya Kehidupan, Gusti

Bagus Setyoko Purwo

Manusia Pendoa
: manusia lemah
berangkat pagi hari menempuh laju menuju
entah tiba di tujuan terakhir
manusia melangkah dengan harapan
Tuhan membaikkan hari tidak hanya sekarang

mencari nafkah berkah di tiap guratan otot-otot kehidupan
keringat merembas di sekujur lelah yang menjalar
manusia di utus Tuhan sebagai mandataris di bumi
berbalut rasa lemah manusia dimestikan berdoa tanpa bersyarat
2014

Surga Bagi Kehidupan
: tercipta untuk yang dikehendaki-Nya
sabar menerima jalan takdir
kita bertahan dengan keridhoan meneruskan ikhtiar
menempuh lorong-lorong yang terangnya
terlihat di ujung perjalanan kita
di situlah surga bagi kehidupan
:sabar.ridho.tawakkal – mari kita memohon itu
2014

Baiknya Manusia
: kode etik tiap-tiap kita
jangan mengemis pada sesama
yang asalnya kita adalah pengemis
jangan merampas hak sesama
sebab watak kita adalah perompak

sebaikknya kita saling membaikkan
membirukan terus langit kebersamaan
menyegarkan udara dalam lingkup toleransi
menjernihkan pikiran antar insan yang mencinta
2014

Tuesday, March 25, 2014

Salam 30 -Kun

Puisi: SALAM 30

Bagus Setyoko Purwo

Berapa kali kebajikan itu akan di balas
... Malaikat yang berkerudung hitam tersenyum-senyum
aku ulangi lagi: Berapa kali kebajikan itu akan di balas
Dia masih tetap menepikan senyum di pipinya

Jika saja kematian itu terasa mesra
Tentu tidak akan ada cerita penyiksaan dalam kitab suci
aku lebih memilih untuk setia bersama kebajikan
Tak penting bagiku adakah itu surga dan neraka

Selepas isya tabur kebajikan bersemi di tanah Tuhan-
Kehendak Tuhan berselaras dengan irama itu
Lantunan ayat-ayat suci pelebur kekecawaan yang mendalam

Tidak perlu sebanyak anggota parlemen
Tidak perlu seheboh konser dandgut alun-alun
Tidak perlu seramai ormas
Semua itu tidak perlu
jika sekiranya hanya untuk menambah keyakinan pada Sang Pencukup HIdup

30 orang yang sengaja melabuh
Menurunkan jangkar keegoannya
Hingga tiba waktunya
Salam 30 bagi kebahagian yang senyatanya...
Suka

Dua Yang Entah Itu Puisi atau Sajak -Bagus Setyoko Purwo

Segelas Kerinduan
Bagus Setyoko Purwo

Aku pesan teh manis hangat dan roti bakar yang dipanggang di atas bara-bara asmara
Bagaimana jika kita santap hidangan  ini sambil bertukar cerita dan merekatkan kembali
Kenangan-kenangan itu
Kenangan-kenangan yang mengolok-olok kita sebagai pasangan cinta musim semi

Silahkan kau yang memulai dan aku yang menyimaknya
Bagaimana mulanya kau menaruh benih itu satu
Mempercayainya di lubuk hatiku sebagai ladang tumbuh benih itu
Hingga kini kau rasakan rindangnya hawa sejuk yang menembus pori-pori kita
Kau bahagia tentunya
Boleh aku tuang segelas kerinduan
Aku lihat gelasmu itu kosong dan berruang
Mari kita bersulang


Hendak ke mana

Arah angin menuntun perjalanan kita
Dengan persediaan pangan yang terbatas
Dan juga perhiasan lapuk
Entah berapa jarak
Entah berapa lama
Dan entah sejauhmana kita bertahan






SEORANG PEREMPUAN KU PINANG DIRINYA

SEORANG PEREMPUAN KU PINANG DIRINYA

 Bagus Setyoko Purwo
Mencuri tatapanmu dibalik daun talas yang mengembang

Setetes cinta membasahi kegersangan jiwa

Apakah tanda cinta itu berawal dari panah asmara

Kau rapatkan langit-langit bumi

Hening


Kenapa bisu yang kau tawarkan padaku

Seekor camar bahkan mencemohmu

Kucing dapur yang dekil itu bahkan ikut mentertawaimu

Aku tidak sedang bergurau

Tidak juga menggombal


Sesampainya di waktu menjelang maghrib

Kau kirim pesan bersahaja itu

Aku eja setiap katakata itu:

Kau butuh aku

Aku mendampingimu dalam relung waktu –Tabah Puji Rahayu

Bekasi, 16 Mei 2012

Friday, December 13, 2013

Sajak

ANAKKU ISTRIKU JUGA

Oleh: Bagus Setyoko Purwo

Keningmu ada di bibirku
Kamu belia di pundakku
Kamu menangis di mukaku
Aku simpan kamu di qalbu

Aku peluk kamu dengan hangatan cinta
Aku usap helai-helai rambutmu
Dan aku tak menyangka di jari manis kananmu
Melingkar setia cicin maharku

(Jakarta, 28 April 2009)


ASMA cinta
Oleh: Bagus Setyoko Purwo

Cukuplah bagiku selintas pesan yang semalam
Tidak ada keraguan yang menghalangiku
Pergi meninggalkan cahaya malam
Angin-angin mengetuk kedalaman jiwaku

Jarummu menusuk kain qalbuku
Tidak ada darah yang berbicara
Denyut kekecewaan berlari di langit malam
Aku pun seperti bintang tak bernyala



Asma indah kelopak mawar elok senyummu
Tidak perlu kau menghapus sekujur tubuhku
Aku memang bukan manusia seutuh dirimu
Yang sejatinya sanggup membingkai cintamu

(Jakarta, 28 April 2009)

Sebentar Berfilsafat

Oleh Bagus Setyoko Purwo

Cinta kebenaran
Cinta kebijaksanaan
Permulaan cinta
bumi yang hampar
manusia jualah yang tertampar

sebuah kebaikan berasal dari secuil garam
lalu, membukit bahkan menyerupai pucuk merapi
mengepul, berlava, dan sungguh mencengkam
ketika bagaimana terjadinya
filsafatlah yang bercerita

tentang Tuhan
realitas agung yang bahkan segengam saja
telapak tangan tangan yang meleleh
sebab kandungan Tuhan
manusia papah menimangnya

tentang manusia
realitas bernyawa dan bergerak
suara tajam yang merobek-robek kelam
menara angkuh yang menjuntai
bahkan manusialah yang memulai

tentang alam
realitas peranakan unsur-unsur material
tumbuh perlahan dan dewasa sekarang
hingga pada akhirnya
kita semualah yang menunggu
pada saat panggilan itu menggema
manakah yang tersebut sebagai keabadiaan tunggal, kemajemukan berantai, dan makro kosmologi peradaban yang terekam----


Bekasi, 21 Mei 2012

On Line

Oleh Bagus Setyoko Purwo

Pada suatu malam yang berujung pada kehampaan. 
Larut pekat rembulan di langit menyahdukan suasana di mana aku masih menatap layar berwarna-warni. 
Menunggu balasan dua arah komunikasi jarak jauh yang aku tahu namamu dari sebuah akun yang saat ini trend di kalangan anak-anak muda. 
Memang tidak bisa dipastikan keberadaanmu yang sebenarnya. Memang tidak bisa dipercaya photo profil dirimu yang menyerupai paras ayu artis muda. 
Bagiku tak penting keaslian dirimu, keberadaan dirimu sampai kepada kemanusiaan dirimu tak aku hiraukan.

Manusia berjalan ke depan, menoleh ke samping, berhenti di tepian, beristirahat sejenak dan kemudian lanjut dengan berlari kencang. 
Persis petualang sejati kira-kira menurutku. Dan waktu itu cepat bahkan kecepatannya lebih berharga dari nyawa kita yang kita pacu dengan kecepatan tinggi di atas kendaraan.

Malam ini kau bercerita dengan datar. Kisah yang ku anggap tidak berarti dalam kehidupan yang sempurna ini. 
Aku melihat dari jarak jauh. 
status-statusmu adalah wajah asli mu. Kata-kata mu adalah kepribadianmu. 
Sehingga dengan mudah aku menyimpulkan siapa kamu dan terlalu mudah untuk aku klasifikasikan.

On line adalah saluran yang dengan hanya melalui kata-kata yang terekam dalam akun-akun pribadi milik siapa pun dapat aku ketahui siapa dia sebenarnya, bagaimana keadaan dia sampai seberapa lama dia bertahan dalam kondisi yang sedang di alaminya.