Bagus Setyoko Purwo
Jurus Mencintai
Agar kau selalu tepat di mata perempuan
Beberapa lelaki sakit hati karena harapannya tertolak. Beberapa lelaki berbunga-bunga karena taman hatinya terhiasi kembang yang mereka idam-idamkan. Dan beberapa perempuan terlihat repot mencari alasan untuk menghindari sergapan logika lelaki yang nampak ambisius mendapatkannya. Itu terjadi karena cinta sedang meradang.
Bagi kau yang nyatanya sampai tahun ini belum juga bercinta, tak usah risau. Abaikan saja tahun kemarin yang mungkin akan membuatmu trauma karena ulah cinta. Lebih tepatnya sebab kekecewaanmu adalah kekeliruanmu dalam menalar.
Menalar mana yang pantas, kurang pantas dan tidak pantas. Ada sesosok yang tiba-tiba menjadi doamu dan kau begitu gemar menyebut dirinya. Menyanjung-nyanjungnya seolah kau lupa bahwa Tuhan maha tahu dibalik sanjunganmu itu terselip ketergesa-gesaan. Dan kau sangat menikmati itu.
Namun jawaban atas doamu itu adalah kekecewaan. Sebab kuasa Tuhan mematahkan logikamu tentangnya. Bayanganmu berdansa dengannya sebagai olah cinta kala malam meremang sungguh membuat kepalamu terasa ringan. Bahkan adegan ranjang yang belum pernah kau lakoni kau bayangkan penuh gelora seksual yang mau tak mau fantastis itu berakhir dengan kesedihan.
Cinta yang banyak memakan korban, termasuk kau, sebenarnya adanya cinta untuk menjinakkan kebuasan, meluluhkan keangkuhan, meluaskan kasih dan menyiapkan ruang indah di masa depan. Kau hanya perlu mengerti bahwa cinta sama buasnya dengan binatang rimba yang terkamannya mampu merenggut nyawa saat itu juga.
Pertama, sebagai manusia yang diberi cinta, kau sediakan wadah untuk menerima kehadiran cinta. Cinta yang datang memerlukan tempat yang bukan hanya pas, juga istimewa.
Kedua, kau rawat setelah cinta itu kau tempatkan. Kau jaga sebagaimana kau menjaga dirimu sendiri. Sebab cinta akan merasa teraniaya manakala kau mengabaikan perhatiaan sepenuh hati.
Ketiga, bukan tidak mungkin cintamu yang menjagamu, mengingatkanmu, dan ia menjadi hamba bagimu, bila cinta itu telah merasa bahwa kau sosok yang selama ini ia cari.
Dan hal ini berlaku untuk kau, wahai laki-laki dan perempuan.
Bekasi, 14 Januari 2015
Showing posts with label Belajar Bercerita Nyata. Show all posts
Showing posts with label Belajar Bercerita Nyata. Show all posts
Tuesday, January 13, 2015
Tuesday, April 22, 2014
Tak Terasa
Tak Terasa
Cerpen
Bagus Setyoko Purwo
Memilih fakultas dan
jurusan itu seperti memilih ukuran pakean dalem. Mau semahal dan sebagus apapun
bahan yang digunakan, nyaman dan gak nyamannya pasti keliatan tiap kali si
pemakai itu bergerak. Mau serong ke kanan dan ke kiri, loncat-loncatan, lari-lari
kecil, apalagi lari marathon, ohhh…sungguh merupakan derita yang memalukan.
Pasti akan timbul gerakan dadakan yang membuat lo terpaksa membenahi libetan,
atau apalah yang menganggu kenyaman selangkangan lo melangkah berikutnya. Hubungannya jelas, jika lo mau nyaman kuliah
maka sama halnya kaya lo memilih pakean dalem untuk aktivitas sehari-hari.
Kasarnya
lihat-cermati-ukur otak dulu, tampang sih nomor kesekian. Biaya adalah hal
utama yang menyebabkan lo bisa terdampar di sebuah fakultas. Halusnya untuk kedua
urusan itu tergantung kenyamanan yang pengen lo dapatkan kemudian. Sarjana dan gak sarjana urusan lo
sendiri-sendiri kan! Kalo gue? Sama kaya lo semua.
Banyak omongan yang mencetak tebal
kenapa anak-anak zaman sekarang mesti punya style.
Istilah Inggrisnya yang lebih kompleks adalah performace. Gak
hanya berjender cewe atau cowo – kalo lo gak punya ciri khas atau istilah kerennya yang di
atas itu, gue anggap lo belum ngikutin zaman. Masih kalah dengan
anak-anak galauers –
mereka saja dalam beberapa pose memiliki gesture yang berbeda. Gue
coba tengok ke likungan akademis. Kenyataannya gak sedikit mahasiswa yang modis
performacenya seperti mahasiswa
dengan IP rata-rata per semester 3,50. Kebiasaan mereka tiap kuliah paling
sedikit meluk dua buku tebel, malah bawa rasel untuk semua akomodasi selama di
kampus, dan yang paling mencolok adalah mahasiswa yang dengan ketebalan
kacamatanya itu nyatanya tidak selalu berkorelasi dengan prestasi akademis. Hal
ini gue simpulkan atas temuan tiga orang kawan yang kacamatanya gak kalah tebel
dengan kaca nako. Pupolasi di kelas gue bernaung 10 pria relative ganteng dan
12 wanita relative lenje.
Kawan pertama Andy
Belingsut, “Bro kacamata lo kayanya tiap bulan nambah tebel. Lo kutu kupret
perpus sih.”
“Gue juga bingung nih kenapa malah
nambah tebel. Padahal gue udah ngurangi jatah main game online yang semula tujuh jam sehari gue kurangi setengah jam
malah gak ada pengaruhnya.” Kapan
ngerjain tugas dan belajarnya nih bocah.
“Ya jelaslah mau lo
kurangi satu sampe tiga jam tetap aja gak berkurang. Lo ke kampus justru
nambahi jam ekstra ngegame online.”
Tangan gue udah biasa ngeplak otak kanan Andy Belingsut. Andy Belingsut paling
tidak tahan melihat waktu kosong. Dan dengan segenap pikiran hematnya waktu
senggang adalah ekstra untuk berselingkuh dengan game online. Kasian juga cewenya. Sini ama gue aja.
“Gue kan nyontoh tuh,”
tangannya menyerobot kata-katanya yang terhenti, telunjuknya melurus ke sebuah
ruang unit kegiatan mahasiswa akuntansi. “Liat mereka yang sangat perlu
menyisihkan waktu secara ekstra demi mencintai akuntansi.” Katanya kemudian.
Nyengirnya mengembang.
“Lain konteks GOBLOK!”
Gue sewot membara. “Mereka itu belajar memperdalam study akuntansi, lain dengan lo!!!” Mulut gue berkoar-koar merusak
ketenangan kampus.
Oke gue anggap sampel
orang yang pertama cukup. Meski separuh kewarasan yang ada diotaknya. Kita langsung ke TKP menemui Hanafi Sang Pria
Sejati. Sekilas namanya sudah cukup alay. Terlebih kalo gue buka fb lalu menepi
di beranda status. Udah gak jarang tuh status berbaris karya milik pujangga
pinggiran yang masih aja keselip kata-kata typo. Gue sudah cukup banyak mencela kediksian
Hanafi Sang Pria Sejati yang mirisnya selalu saja bertepuk sebelah dada.
Bahasanya gak lagi bertepuk sebelah tangan. Lebih dalam lagi perasaan batin
yang menjalar si korban daripada bertepuk sebelah tangan. Si Hanafi Sang Pria
Sejati sudah kapalan dari rasa sakit hati dalam bentuk apapun. Dia adalah
korban pelecehan hati yang gue temui dengan tingkat ketebalan kacamata yang lebih
sedikit dari Andy Belingsut.
Meluncurlah sebuah
pertanyaan goblok gue di sela-sela pergantian mata kuliah. “Fi, apa lo gak
risih pake kacamata yang nambah tebel gtu?”
Dia balik nanya cukup tajam, “Lah lo apa
gak keberatan tuh kepala rambut gondrong kriwil gtu.” Anjrit nih bocah.
Hanafi meluruskan kedua
kakinya yang menyila. “Sebenarnya kalo di suruh memilih gue sih milih hidup
tanpa beban gini, man.” Malah mendayu-dayu ocehannya lagi,”Gue bosen man hidup
dengan ujian yang bertubi-tubi.” Halah
kawan gue yang satu ini. Ketebalan kacamata yang ia pikul selama ini
dianggapnya sebagai beban.
“Si Ratih telah mencampaknya gue man.” Kenapa dia menggiring gue untuk menjadi
pendengar curhatnya. Gue potong sebelum cerita harunya terlontar.
“Kenapa kacamata lo nambah tebel, fi?”
“Gue yakin ini semua gara-gara Julia,
man.” Gak jauh beda ini mah. TERPAKSA gue
ikutin alur kejolak batinnya.
“Apa hubungannya Julia dengan ketebalan
kacamata lo?” Tanya gue gigit kupingnya. Makin
gak nyambung aja nih bocah. Semula curhat Ratih sekarang Julia. Cepet sekali perubahan
hatinya. “Semenjak ia menyatakan penolakan cinta gue jadi menggilai
kata-kata puitis man. Dia bilang karena gue gak seromantis yang ia harapkan.”
“Terus-terus, fi?” gue malah tambah
penasaran mendengarkan ceritanya lagi.
“Gue lahap semua buku-buku para
pujangga. Kemanapun gue melangkah selalu gue kembangkan diksi-diksi melalui apa
saja yang melintas di benak gue. Bahkan gue sampai seektrem yang lo gak tahu
man.” Mulutnya mepet ke telinga gue. Bodohnya gue manut aja lagi. Suttttsss…suttttsss…suttttsss
“Ah masa sampe
sebegitunya lo?” Gue heboh sendiri. “Gue jadi penggila setiap kata-kata man.
Gue uber tuh kata-kata meski sekecil atom sekalipun. Semua itu gue lakukan demi
mendapatkan Julia. Tapi sekarang Julia berubah total man. Dia udah gak
seromantis yang dulu. Emang ini bocah
udah jadian apa. Dia lebih memilih Robert yang katanya gaoel dan up to date. Padahal apa coba kelebihan
Robert dibanding gue.” Dalam hati gue
nyeletuk lo sama Robert terbentang jarak yang jauh melebihi tingginya langit
dengan dasar comberan.
Oke gue jadi paham
kenapa si Hanafi Sang Pria Sejati selalu menambah ketebalan kacamatanya.
Paramaternya adalah seberapa banyak dan kecilnya kata-kata yang ia baca, itupun
masih melihat kadar luapan sakit hatinya.
Lain lagi dengan kawan ketiga gue, Sabdo
Yang Mencintai Agamanya. Gue ceritain sedikit tentang keunikannya. Sejak
semester awal ia menjebloskan diri ke dalam ruang unit kegiatan mahasiswa
remaja masjid. Setiap tutur katanya lembut nan teduh. Sebentar-sebentar asma
Keagungan Alloh yang terucap. Tapi malah gak wajar melihat paranoidnya ama
serangga imut-imut yang membuat kaum Hawa terlonjak-lonjak. ‘Kecoa serangga
bukan?’ Dan berbarengan dengan itu Sabdo nggak henti-hentinya mengucapkan asma
kesucian Tuhan di kamar mandi musholla. Gue rasa Kanjeng Nabi dulu gak kaya
gini-gini banget.
“Bdo, lo gak pusing apa baca kitab
sedeket itu?” Sabdo masih asik dengan kekasihnya yang katanya ia lebih memilih
memegang bara api daripada bersalaman dengan lain jenis. Fanatik kaum muda dalam beragama.
Gue kesel, “Heh Goblok gue tanya malah
anteng aja!”
“Astgahfirlloh, istighfar antum,” Sabdo
terlonjak.
“Gue nanya!!!” Seru gue berlapis.
Gue bergeser mendekati kuping
caplangnya, “Tadi si Fatimah liatin lo mulu tuh.”
“Masa sih. Yang bener lo.” Sambutnya
antusias.
“Peci..peci gue mana man?” rautnya
tergesa-gesa. Pandanganya melesat ke luar musholla. “Bisa kacau nih kalau
Fatimah gak ngeliat gue di musholla.” Parah
juga nih bocah alim pemula. Bentar-bentar point of viewnya Fatimah. Masih lemah
imannya.
Sebenarnya gue agak segen nanyai tentang
ketebalan kacamata pada kawan-kawan terpilih. Yang bikin gue jijik gayanya si
Sabdo. gue minta untuk 15 menit ke depan
lo kembali ke awal pribadi lo. Bismillah. Gue tepok jidatnya. Jurus gue
berhasil.
“Apa yang menyebabkan lo cepet banget
ganti kacamata?” suara gue meluncur secara formal dengan logat anak Jakarta.
“Ada dua faktor yang melandasi kenapa
gue sering gonta-ganti kacamata, terutama ketebalan lensa ini,” telunjuknya menyetuh
salah satu lensa kacamatanya yang ia lepas. Ini
bocah cekatan juga ngimbangi gaya bicara gue.
“Lo tahu kan Fatimah berkacamata juga.”
Gue mengangguk.
“Menurut praktis gue dengan cara itulah
gue seenggaknya pede deketin Fatimah.”
“Emang ngaruh, bdo?”
“Tunggu tanggal mainnya,” jawabnya
ngeloyor ninggalin gue. Narasumber gue yang ini memang sedikit rada ngartis.
SARAP pula lagi. Kebiasaanya selalu nggantungi si lawan bicara. “Bdo, faktor
yang keduanya apa?”
Gue sepakat dengan
anggapan sepihak gue bahwa ketebalan kacamata gak mesti sejalan dengan
pencapaian tingkat akademis yang optimal. Apalagi untuk mereka yang gemarnya
baca stensilan, bukan berarti juga pengetahuan mereka canggih, kecuali untuk
lintas 3gp (term teknologi visual yang sebaiknya dijauhkan dari jangkauan
anak-anak dibawah umur 20 tahun – bukan tontonan).
****
Setelah Lulus
Nuansa anak baru lulus
SMA masih menempel di pundak gue. Dengan sangat berbangga gue, mereka yang
segolongan dengan gue akan mudah mengenal nama gue walau gue gak mengenalkan
diri sebelumnya. Itu karena huruf
bercetak latin di atas saku kanan seragam putih abu-abu tertera nama gue SATRIO
PF. Gue pernah protes waktu menerima embleman bordir nama itu di koperasi, tiga
tahun silam. “Bu, kok nama saya malah SATRIO BF?!” Wajar kalau gue kebawa emosi. Dua abjad
terakhir itu mengkonotasikan negative ke gue.
Sekarang gue bukan anak
putih abu-abu lagi dan gak lagi nyanyi cintaku bersemi di putih abu-abu. Bentar
lagi gue bakal bebas pake celana jin. Baju jin. Kemana-mana jin. Lama-lama gue
jadi penggemar jin. Jadi jin deh.
Tidak untuk main-main. Sekali tidak
‘katakan untuk TIDAK! Itu mah semangat lumrah di masa-masa awal kuliah. Gue
pengen membantu pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan, kemelaratan ampe
tujuh turunan terakhir, kesengsaraan dan gue juga akan menaru peduli pada
kaum galauers bagaimana menyikapi siklus
hidup yang kejam ini.
SELAMAT DATANG DI FAKULTAS EKONOMI
KAMPUS BIRU.
Oh begini ya tampangnya
anak-anak ekonomi. Muka-muka dan gaya-gaya mereka modis, tapi perhitungannya
ampun-ampun deh. Hitung-hitungan sih boleh aja, tapi gak sewajarnya juga amal
minta kembalian. Ngasih Rp.10.000, kembalian Rp.9.000. Mentang-mentang tag linenya ‘Kembali Kasih.’
Ada lagi yang bikin
perasaan heran gue meluap-luap. Kenapa setiap ada pengeluaran perlu di catat
dan pemasukan di catat.
Perhitungan banget sih. Setidaknya gue
menangkap basah salah seorang kakak senior yang beralmamater biru (namanya juga
kampus biru, kalo ijo-ijo jadi kolor ijo donk) sedang mencatat setiap
pengeluaran dan gue memang belum tahu apa-apa seputar catat mencatat.
“Kak, emang perlu dicatat ya?” Meski
pertanyaan bodoh gue tetap harus bertanya. “Iya donk dik,” jawab kakak itu
tanpa menoleh ke gue.
“Buat apa sih kak?”
“Buat dicatat donk dik.”
“Emang kenapa kak?”
“Mau tau aja atau mau tau banget?”
“Dua-duanya kak.”
“Woy, singkirkan ini bocah jauh-jauh
dari gue!!!”
Suara kakak menghamburkan kakak-kakak yang lain yang sedang ngopi-ngopi,
ngteh-ngteh dan sebagian photo-photo
pose alay.
Gue gak ngerti kenapa
sejurus kemudian gue dievakuasi secara paksa. Oke, hal itu adalah catatan awal gue kenapa selalu ada
pencatatan di setiap pengeluaran dan pemasukan. Gue akan segera tahu jelasnya alasan kakak itu catat mencatat.
Peristiwa lain gue temui di malam
inagurasi. Denger-denger sih malam pementasan gila-gilaan. ORANG-ORANG ‘GILA’
unjuk GIGI GTU? Gak peduli mau malam gila-gilaan atau kesurupan setan gila,
terus kuliah bareng orang yang rada gila ampe yang gila akut, bagi gue kuliah
di kampus Biru ada motif yang menyertai langkah-langkah gue ke depan. Tentunya
gue sangat pandai menutupi dari jangkauan otak-otak cerdik bonyok gue. Bonyok
gue lebih cerdik dari seekor kancil yang mencuri di ladang pak Mahmod.
Di mana-mana mahasiswa yang ngambil fakultas Ekonomi untuk jadi seorang ekonom,
akuntan, manajer, atau pengganti presiden periode berikutnya, lah ini gue
justru terobsesi menjadi traveling
backpacker. Gak ada nyambung-nyambungnya pisan. Nanti gue nyambung-nyambungin sendiri deh. Gak
tahu itu obsesi tiba-tiba aja ngotot ngedahului cita-cita semula gue yang
pengen banget jadi ustadz komedi. Jama’ah oh jama’ah…Alhamdulillah. Apakah
ini merupakan prestasi awal gue atau bukan, banyak kakak-kakak kelas yang sok
akrab ke gue. Mulai dari yang mulanya curi-curi pandang, senggol-senggolan,
cubit-cubitan, tampar-tamparan, dan untuk yang satu ini gak ada dari mereka
kakak-kakak kelas yang cewe cium-ciuman ama gue. BISA MAMPUS DI TEMPAT GUE.
Wajar aja sih gue manggil mereka kakak. Yang gak wajar tuh gue panggil mereka
eh njing. Di tampol langsung.
Rasa-rasanya
baru kemarin gue naik kelas satu, eh sekarang udah melesat aja ke semester satu
di dunia perkampusan. Dunia yang sama sekali jauh dari 180 derajat celcius dari kehidupan
gue semasa sekolah dulu. Ngawur itu asoy
cuy. Semasa gue belajar bandel-bandelnya jadi anak badung. Eh sama aja ye. Terus, sesuatu yang gak
gue engehin ketika telek-teleknya gue di sindir berbagai teori-teori
perkuliahan adalah tidak ada manusia yang bisa bertahan dengan khayalannya
semata, apalagi sukses karena menghidupkan khayalannya itu dalam tempurung
otaknya. Dan rasa-rasanya laju perubahan gue saat ini seperti mengejar SKS - yang semakin ke sana memerlukan daya juang yang tangkas.
Teori berikutnya adalah draft SKS yang akan gue ambil - cie...cie...Naik semester dua nih.
Bekasi, 23 April 2014
Friday, December 13, 2013
Gagal Bernarasi Pada "Free Jalan-Jalan"
Oleh Bagus Setyoko Purwo
Kalau bukan karena terpilih sebagai pemenang pilihan juri, saya tidak akan berwisata riake pulau Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah. Dan setelah saya memenuhi undangan yang sepenuhnya diatur oleh provider tour, ragam destinasi yang saya nikmati menjadikan nuansa memory yang sangat mengesankan. Terlebih pada beberapa hal yang akan saya ulasan dalam beberapa lembar ini.
Prosesi jalan-jalan, pertama terjadi karena kita merasa jenuh yang disebabkan oleh tumpukkan kepenatan rutinitas. Kedua karena kita memang maniak jalan-jalan, minimal seboke-bokenyajalan ke pasar malam. Sekeren-kerennya ya backpaker yang menjadikan hamparan bumi sebagai jalan terpanjang menuju surga.
Sayabukan diantara keduanya. Tapi pada suatu moment yang saya anggap tidak sengaja,justru saya mendapatkan kesempatan halnya seorang wisatawan -masih lokal loh.
"Kenapa gue sih?" "Kok bisa gueyang kepilih?" "Apa gak salah pilih nih?" Macam-macam kalimat tanyamenyeruak bebas dikepala saya setelah suara mbak redaksi menghubungi saya. Sebelumnyaadalah konfirmasi via email yang menyatakan saya masuk dalam tiga puluh penulisbertema perjalanan. Nah berangkat dari situlah entah karena faktor-faktor pertimbanganapa yang meloloskan saya sebagai salah satu dari tiga penulis muda terpilih untukmenikmati wisata yang dipandu oleh agent traveling.Gelora hati yang terasa adalah ingin cepat-cepat tiba pada hari H keberangkatanbersama menuju pulau itu.
Maka,lintasan-lintasan imajinasi yang saling mendahului mengasyikan khayalan saya tiapkali menghitung berapa harikah lagi menuju bulan Februari 2013. Menurut keteranganmbak redaksi bila cuaca mendukung kita berangkat dari Jogja menuju Jepara malamhari, tepat hari dan tanggal yang telah diatur. Hari-hari mendekati bulan itu nuansayang melintasi di benak semakin indah.
Beradadi lintasan pertengahan Januari kekhawatiran saya akan perjalanan yang termungkinkandi cancel karena kabar di koran harian nasionalmenyatakan naiknya gelombang laut dalam beberapa hari ke depan tak juga membuatimaji saya surut. Sekali lagi, perjalanan ke Karimunjawa sungguh meruang banyakdi pikiran saya. Apalagi ini perjalanan saya kali pertama menyebrangi pulau. Kesan-kesanyang muncul sudah merajalela.
Sebuahpesan masuk dan saya baca berulang : "Hi guys, kita baru dapat kabar nih, dermagasore ini ditutup karena cuaca buruk. Selanjutnya kita kabari lagi."
Pesanitu bukan perkara mudah untuk saya sikapi. Berarti satu bulan ke depan keberangkatanitu bisa terlaksana. Itu pun juga tergantung cuaca yang memungkinkan untuk melaut.Demi suatu hasrat yang telah lama menguasai bayang-bayang khayalan, cara bijak saya tidak lain adalah bersabar.
Satupelajaran berharga meski saya belum melakukan perjalanan mendorong saya menyerahkansemua yang kan terjadi kepada Tuhan. Dalam hal itu walau saya telah memposisikandiri sebagai konseptor atas beberapa hal yang sepertinya sudah pasti akan saya perolehdiperjalanan wisata itu, posisi manusia hanya sebatas itu. Diluar kapasitas saya,Tuhanlah Sang Penentu yang hakiki.
Oke,keberangkatan aku terima kabar yang kedua setelah ternyata pada Maret yang dijadwalkankita berangkat, namun gelombang kembali lagi berulah. Perasaanku benar-benar gakkaruan. Bukan semata gagal berangkat, tapi tiket bus yang saya beli kemarin artinyahangus tanpa uang kembali. Dengan begitu kesabaran ekstra adalah penegasan sikapsaya agar jangan mendramatisir situasi yang menyebabkan munculnya pikiran untukmembatalkan keikutsertaan diri. "Tidak boleh, "lirih batin saya.
Sejalannyadengan pergantian bulan yang tidak saya nanti natikan lagi waktu keberangkatan keJogja untuk besok malamnya menempuh perjalanan ke pelabuhan Kartini, Jepara. Karenasaya tidak ingin merasakan kekecewaan yang berlapis, tibanya saya berangkat menujuJogjakarta menggunakan bus.
Mengisiwaktu selama penempuhan menuju Jogja, ruang-ruang imajinasi yang seketika aja berkembangdi otakku saling mendahului halnya kendaraan yang melaju di jalan. Saya membayangkansetibanya di Jogja akan begini begitu dan hampir tidak ada satu punya gambaran yangtidak menyenangkan mampir ke otak saya. Wah enak sekali ya. Lamunan surga saya beradadi dalam bus.
Akankahhari esok sesampainya di Jogja semua yang saya bayangkan terwujud. "Nggak adayang gak mungkin, "pikir saya saat itu. Ya namanya sedang dilanda euforia wisata.
Entahkarena mesin bus ada yang rusak atau memang bus yang saya tumpangi sudah tidak laikjalan. Di rumah makan yang jaraknya masih sangat jauh dari Jogja bus mengalami perbaikanselama beberapa menit. Perasaan saya mulai gusar mempertanyakan kapan jalannya nihbus, sampai Jogja jam berapa nih. Perbadingan otakpun juga ikut merespon keadaan;kalau begini jadinya, kenapa tadi sore gak naik kereta aja gue, huah mateng di jalannih gue.
Nada-nadagerutuan sepanjang perjalanan menuju Jogja sudah menyerupai nyanyian penyesalansaya kenapa memilih dan menyakini bus yang bisa menghantarkan saya ke Jogja. Danini bagi saya merupakan pengalaman yang menguras tenaga, memaksa diri untuk menikmatiproses yang juga berusaha menghibur diri dengan dalih bahwa setelah kesulitan adakelapangan. Setelah kesedihan, penderitaan akan ada kesenangan, kepuasan. Berlakuatau tidak dalih itu, yang jadi soal berikutnya bagi saya adalah menemukan kantorpusat tempat mbak editor menanti kedatangan saya.
Tepatpada hari itu adalah hari Jumat yang telah masuk waktu sholat jumat. "Waduh,sial lagi gue hari ini. Malah tempat yang gue tuju belum juga ketemu, badan lengketabis plus apek banget lagi, perut gue laparnya ampun ampun. Parahnya lagi gue gakbisa sholat jumat pada kondisi begini, "saya hanya bisa membatin.
Lupakansemua derita derita sementara itu. Selang beberapa jam kemudian lokasi yang sayatuju tepat berada di hadapan saya. Tuhan memang tidak akan tega melihat hamba-Nyayang dirundung kebingungan dan gak mungkin sial mulu.
Sambilmenunggu waktu malam menjelang, rebah-rebahan di kasur penginapan memacu kembaliimaji-imaji kepulauan Karimunjawa. Wah lintasan gambaran snorkling di bawah lautpasti menyenangkan. Karena selama ini anggapan saya tentang snorkling adalah samaaja diving. Sementara itu, gambaran hotel yang akan saya jadikan tempat bermalamselama tiga hari pasti ikut mendukung memanjakan raga dan tentunya bisa memulihkanjiwa atas rasa kecewa yang tidak sedikit. Makanan yang tersaji disana seperti sayasudah bisa mengecap dan mengunyahnya secara perlahan ikan-ikan laut yang segar.Apalagi setelah saya membaca schedule yang diberikan oleh agent travel. Amazing-lah.
Sebuahmobil minibus menembus pekatnya malam yang terguyur hujan. Berangkat dari Jogjapukul sepuluh malam sampai di parkiran pelabuhan sebelum subuh. Artinya saya masihbisa merasakan hembusan udara segar pinggir laut. Kini saya tidak lagi sendiri.Penegasannya kalau pun nanti saya sial lagi tidak dirasakan sendiri begitupun senang,gembira juga bersama dengan keempat teman baru saya. Saya kenal dan akrab bersamaketika turun dari minibus, dan semakin tahu satu sama lain direntang waktu menunggukapal cepat cantika ekspress melabuh.
Makanpagi bersama ala prasmanan warung nasi pelabuhan aku rasa cukup sebagai asupan energiuntuk beberapa jam ke depan. Mantab, kenyang sekalugus pada beberapa menu yang lidahkutidak asing mengecapnya. Memang menjadi pilihan yang menarik kala memasuki daerahbaru adalah mengenali tempat kuliner sementara kita. Ada pedoman nyata yang ternyatabanyak orang yang dirugikan oleh sebab tidak menanyakan berapa seporsi makan yangtelah ia santap. Bertanya harga diawal adalah lumrah saya lakukan dimana saja sayamakan.
Kenyangsudah, semua yang dirasakan perlu dipenuhi sebelum melesat bersama kapal cepat yangbeberapa saat lagi dibuka, saya rasa telah tercukupi dan keempat teman saya itujuga demikian. Sampai lupa saya menyebutkan inisial gaul mereka: ada mas Dion, cakLalu, mbak Rina, dan mbak Kim. Tiga diantara mereka adalag traveler maniak. Sedangkansaya adalah orang beruntung yang bisa melewatkan moment yang penuh kegembiraan inibersama mereka.
Kapalcepat telah melabuh, kami berada dalam antrian masuk sambil memegang karcis. Sesekalisaya bidik objek sekenanya karena posisi diri yang sedang berada dalam satu antrian.Memasuki ruang kapal yang full ac memerlukan tambahan jaket sebagai penambah rasahangat. Tidak mungkin kuat menahan dingin selama kurang lebih dua jam berada padasuhu ruangan di bawah lima derajat celcius.
Pilihankami menggunakan kapal cepat adalah untuk memangkas waktu penempuhan yang bila menggunakankapal besar penumpang memakan waktu enam jam. Mati gaya deh kalau kami menumpangkapal besar. Gaya apalagi yang muncul selama enam jam itu. Jungkir balik, salto,sampai gaya boring dengan terpaan angin laut, rasanya semua gaya akan habis saatitu.
DermagaKarimunjawa terlihat dari luar kaca kapal. Siap bergegas keluar kapal. Siap menapakankaki dikepulauan itu. Dan siap pula basah-basahan seharian penuh. Hari pertama kamilangsung snorkling. Ini pertama bagi saya dan seperti apakah snorkling itu.
Sampailahkaki kami menginjak dengan pijakan penuh rindu. Bagaimana tidak rindu, untuk bisasampai ke sini sudah dua kali gagal dari jadwal semula dan ini adalah penantiandari bulan Februari ke bulan Mei. Sungguh menyenangkan.
Sayasemula tidak pernah membayangkan menaiki mobil pick up menuju "hotel".Barangkali bayangan saya setibanya di Karimun tidak memperhatikan detail bahwa akseskendaraan roda empat ke pantai itu di batasi. Jadi mana mungkin ada minibus di situ.Pikiran saya melambung terlalu tinggi, membayangkan bisa karokean di kendaraan yangmenghubungkan ke "hotel." Yang saat itu nyata adalah saya menumpang dibelakang pick up dengan alas tikar tempat kami berlesehan. Menyenangkan juga lebihasyiknya sungguh unik. Hal itu tidak masalah bagi saya.
"Manahotelnya?"saya menyembunyikan suara ituu dari teman teman yang tidak mempersoalkanmau nginep di mana tidak jadi soal. Cuma, kenapa lagi lagi otak saya bisa membayangkanyang jauh dari realitas. Saya mengingatkan diri bahwa hidup itu terjalin baik manakalarealitas yang kita terima berjalan dengan baik. Tidak lantas saya menggerutu. Sayalebih mengkritisi diri kenapa saya jadi suka mengkhayalkan sesuatu yang sangat mungkinjauh dari realitas.
Duakamar yang kami peroleh. Homestay. Baru ini saya menginap ala homestay yang artinyasaya numpang nginep di rumah penduduk asli yang dengan begitu tata krama lokalitaswajib saya patuhi.
Haripertama membuat kami menyukai aktivitas snorkling. Meski di awal kami menyeburkandiri di laut lepas membuat kami harus dievakuasi ke atas kapal karena kepanikankami yang jauh dari kapal dan diantara kami saling bersandar. Kami teriak hebohlayaknya anak kecil yang sedang belajar berenang di tempat dalam. Maka saya katakanbahwa bayangan saya tentang snorkling dengan diving adalah sama ternyata keliru.
Sepulangnyadari aktivitas seharian kami masuk ke homestay dalam kondisi lelah namun bahagiadi hari pertama. Persoalan pertama yang ternyata perlu untuk dibayangkan namun sayatak kepikiran soal itu. Ngantri kamar mandi. Hanya tersedia dua kamar mandi, yangdengan itu kami harus tahu diri tahu waktu menggunakan kamar mandi. Terlebih dalammemahami cara penyiraman air ke dalam kloset sehabis BAB. Saya memahami bahwa setiapkamar mandi memiliki metode tersendiri untuk menyelesaikan semacam itu. Maka caratercepat saya adalah bersegera menuju kamar mandi setelah mengambil pakaian salinan.
Menyenangkanitu ternyata bersifat akumulatif. Setelah dihari ketiga kami plesiran dan banyakdestinasi yang kami nikmati menimbulkan kesan-kesan positif. Kami mengambil kesimpulanbahwa di setiap perjalanan mempunyai corak yang menarik, yang berbeda dan memangsejalan dengan itu memory yang terhimpun dalam benak kami suatu ketika nanti kerinduanuntuk mengulangi perjalana itu adalag biaya yang tidak bisa tergantikan walaupunjutaan rupiah siap untuk itu.
Bagisaya tentu ada hikmah moral yang berawal dari perjalanan bersama mereka. Pertama,khayalan atau bayangan yang menghiasi pikiran kita janganlah menjadi patokan penuhkita akan realitas yang kita terima. Kedua, kita hendaknya bisa menempatkan diripada tempat yang kita jadikan penginapan. Jelasnya homestay beda dengan hotel yangdengan itu kita gak bisa teriak teriakan sekencangnya atau loncat loncatan di kamar,gonta ganti chanel tv, karena kita masih serumah dengan pemilik. Hanya saja pemilikmemposisikan kita sebagai konsumennya. hKetiga,jauhi rasa jaim menayakan harga diawal hanya karena kita gak mau dianggap orangperhitungan apalagi pelitnya amit amit. Keempat, menerima semua bentuk akomodasiperjalanan dengan hati yang lapang, jiwa yang gembira, sesungguhnya itu adalah loncatankita berikutnya untuk bisa melakukan perjalanan yang berbeda. Dan untuk terakhirini saya mengajak agar setiap perjalanan dalam wujud apa pun hendaknya dijadikansebagai bagian dari kontemplasi hidup, bahwa sesungguhnya hidup kita ini adalahperjalanan yang belum berujung.
Subscribe to:
Posts (Atom)