Showing posts with label KF Diva Press. Show all posts
Showing posts with label KF Diva Press. Show all posts

Tuesday, April 22, 2014

Tak Terasa

Tak Terasa
Cerpen
Bagus Setyoko Purwo


Memilih fakultas dan jurusan itu seperti memilih ukuran pakean dalem. Mau semahal dan sebagus apapun bahan yang digunakan, nyaman dan gak nyamannya pasti keliatan tiap kali si pemakai itu bergerak. Mau serong ke kanan dan ke kiri, loncat-loncatan, lari-lari kecil, apalagi lari marathon, ohhh…sungguh merupakan derita yang memalukan. Pasti akan timbul gerakan dadakan yang membuat lo terpaksa membenahi libetan, atau apalah yang menganggu kenyaman selangkangan lo melangkah berikutnya.  Hubungannya jelas, jika lo mau nyaman kuliah maka sama halnya kaya lo memilih pakean dalem untuk aktivitas sehari-hari.
Kasarnya lihat-cermati-ukur otak dulu, tampang sih nomor kesekian. Biaya adalah hal utama yang menyebabkan lo bisa terdampar di sebuah fakultas. Halusnya untuk kedua urusan itu tergantung kenyamanan yang pengen lo dapatkan kemudian.  Sarjana dan gak sarjana urusan lo sendiri-sendiri kan! Kalo gue? Sama kaya lo semua. 
Banyak omongan yang mencetak tebal kenapa anak-anak zaman sekarang mesti punya style. Istilah Inggrisnya yang lebih kompleks adalah performace. Gak hanya berjender cewe atau cowo – kalo lo gak punya ciri khas atau istilah kerennya yang di atas itu, gue anggap lo belum ngikutin zaman. Masih kalah dengan anak-anak galauers – mereka saja dalam beberapa pose memiliki gesture yang berbeda. Gue coba tengok ke likungan akademis. Kenyataannya gak sedikit mahasiswa yang modis performacenya seperti mahasiswa dengan IP rata-rata per semester 3,50. Kebiasaan mereka tiap kuliah paling sedikit meluk dua buku tebel, malah bawa rasel untuk semua akomodasi selama di kampus, dan yang paling mencolok adalah mahasiswa yang dengan ketebalan kacamatanya itu nyatanya tidak selalu berkorelasi dengan prestasi akademis. Hal ini gue simpulkan atas temuan tiga orang kawan yang kacamatanya gak kalah tebel dengan kaca nako. Pupolasi di kelas gue bernaung 10 pria relative ganteng dan 12 wanita relative lenje.
Kawan pertama Andy Belingsut, “Bro kacamata lo kayanya tiap bulan nambah tebel. Lo kutu kupret perpus sih.”
“Gue juga bingung nih kenapa malah nambah tebel. Padahal gue udah ngurangi jatah main game online yang semula tujuh jam sehari gue kurangi setengah jam malah gak ada pengaruhnya.” Kapan ngerjain tugas dan belajarnya nih bocah.
“Ya jelaslah mau lo kurangi satu sampe tiga jam tetap aja gak berkurang. Lo ke kampus justru nambahi jam ekstra ngegame online.” Tangan gue udah biasa ngeplak otak kanan Andy Belingsut. Andy Belingsut paling tidak tahan melihat waktu kosong. Dan dengan segenap pikiran hematnya waktu senggang adalah ekstra untuk berselingkuh dengan game online. Kasian juga cewenya. Sini ama gue aja.
“Gue kan nyontoh tuh,” tangannya menyerobot kata-katanya yang terhenti, telunjuknya melurus ke sebuah ruang unit kegiatan mahasiswa akuntansi. “Liat mereka yang sangat perlu menyisihkan waktu secara ekstra demi mencintai akuntansi.” Katanya kemudian. Nyengirnya mengembang.
“Lain konteks GOBLOK!” Gue sewot membara. “Mereka itu belajar memperdalam study akuntansi, lain dengan lo!!!” Mulut gue berkoar-koar merusak ketenangan kampus.
Oke gue anggap sampel orang yang pertama cukup. Meski separuh kewarasan yang ada diotaknya.  Kita langsung ke TKP menemui Hanafi Sang Pria Sejati. Sekilas namanya sudah cukup alay. Terlebih kalo gue buka fb lalu menepi di beranda status. Udah gak jarang tuh status berbaris karya milik pujangga pinggiran yang masih aja keselip kata-kata typo.  Gue sudah cukup banyak mencela kediksian Hanafi Sang Pria Sejati yang mirisnya selalu saja bertepuk sebelah dada. Bahasanya gak lagi bertepuk sebelah tangan. Lebih dalam lagi perasaan batin yang menjalar si korban daripada bertepuk sebelah tangan. Si Hanafi Sang Pria Sejati sudah kapalan dari rasa sakit hati dalam bentuk apapun. Dia adalah korban pelecehan hati yang gue temui dengan tingkat ketebalan kacamata yang lebih sedikit dari Andy Belingsut.
Meluncurlah sebuah pertanyaan goblok gue di sela-sela pergantian mata kuliah. “Fi, apa lo gak risih pake kacamata yang nambah tebel gtu?”
Dia balik nanya cukup tajam, “Lah lo apa gak keberatan tuh kepala rambut gondrong kriwil gtu.” Anjrit nih bocah.
Hanafi meluruskan kedua kakinya yang menyila. “Sebenarnya kalo di suruh memilih gue sih milih hidup tanpa beban gini, man.” Malah mendayu-dayu ocehannya lagi,”Gue bosen man hidup dengan ujian yang bertubi-tubi.” Halah kawan gue yang satu ini. Ketebalan kacamata yang ia pikul selama ini dianggapnya sebagai beban.
“Si Ratih telah mencampaknya gue man.” Kenapa dia menggiring gue untuk menjadi pendengar curhatnya. Gue potong sebelum cerita harunya terlontar.
“Kenapa kacamata lo nambah tebel, fi?”
“Gue yakin ini semua gara-gara Julia, man.” Gak jauh beda ini mah. TERPAKSA gue ikutin alur kejolak batinnya.
“Apa hubungannya Julia dengan ketebalan kacamata lo?” Tanya gue gigit kupingnya. Makin gak nyambung aja nih bocah. Semula curhat Ratih sekarang Julia. Cepet sekali  perubahan hatinya. “Semenjak ia menyatakan penolakan cinta gue jadi menggilai kata-kata puitis man. Dia bilang karena gue gak seromantis yang ia harapkan.”
“Terus-terus, fi?” gue malah tambah penasaran mendengarkan ceritanya lagi.
“Gue lahap semua buku-buku para pujangga. Kemanapun gue melangkah selalu gue kembangkan diksi-diksi melalui apa saja yang melintas di benak gue. Bahkan gue sampai seektrem yang lo gak tahu man.” Mulutnya mepet ke telinga gue. Bodohnya gue manut aja lagi. Suttttsss…suttttsss…suttttsss
“Ah masa sampe sebegitunya lo?” Gue heboh sendiri. “Gue jadi penggila setiap kata-kata man. Gue uber tuh kata-kata meski sekecil atom sekalipun. Semua itu gue lakukan demi mendapatkan Julia. Tapi sekarang Julia berubah total man. Dia udah gak seromantis yang dulu. Emang ini bocah udah jadian apa. Dia lebih memilih Robert yang katanya gaoel dan up to date. Padahal apa coba kelebihan Robert dibanding gue.” Dalam hati gue nyeletuk lo sama Robert terbentang jarak yang jauh melebihi tingginya langit dengan dasar comberan.
Oke gue jadi paham kenapa si Hanafi Sang Pria Sejati selalu menambah ketebalan kacamatanya. Paramaternya adalah seberapa banyak dan kecilnya kata-kata yang ia baca, itupun masih melihat kadar luapan sakit hatinya.
Lain lagi dengan kawan ketiga gue, Sabdo Yang Mencintai Agamanya. Gue ceritain sedikit tentang keunikannya. Sejak semester awal ia menjebloskan diri ke dalam ruang unit kegiatan mahasiswa remaja masjid. Setiap tutur katanya lembut nan teduh. Sebentar-sebentar asma Keagungan Alloh yang terucap. Tapi malah gak wajar melihat paranoidnya ama serangga imut-imut yang membuat kaum Hawa terlonjak-lonjak. ‘Kecoa serangga bukan?’ Dan berbarengan dengan itu Sabdo nggak henti-hentinya mengucapkan asma kesucian Tuhan di kamar mandi musholla. Gue rasa Kanjeng Nabi dulu gak kaya gini-gini banget.
“Bdo, lo gak pusing apa baca kitab sedeket itu?” Sabdo masih asik dengan kekasihnya yang katanya ia lebih memilih memegang bara api daripada bersalaman dengan lain jenis. Fanatik kaum muda dalam beragama.
Gue kesel, “Heh Goblok gue tanya malah anteng aja!”
“Astgahfirlloh, istighfar antum,” Sabdo terlonjak.
“Gue nanya!!!” Seru gue berlapis.
Gue bergeser mendekati kuping caplangnya, “Tadi si Fatimah liatin lo mulu tuh.”
“Masa sih. Yang bener lo.” Sambutnya antusias.
“Peci..peci gue mana man?” rautnya tergesa-gesa. Pandanganya melesat ke luar musholla. “Bisa kacau nih kalau Fatimah gak ngeliat gue di musholla.” Parah juga nih bocah alim pemula. Bentar-bentar point of viewnya Fatimah. Masih lemah imannya.  
Sebenarnya gue agak segen nanyai tentang ketebalan kacamata pada kawan-kawan terpilih. Yang bikin gue jijik gayanya si Sabdo. gue minta untuk 15 menit ke depan lo kembali ke awal pribadi lo. Bismillah. Gue tepok jidatnya. Jurus gue berhasil.
“Apa yang menyebabkan lo cepet banget ganti kacamata?” suara gue meluncur secara formal dengan logat anak Jakarta.
“Ada dua faktor yang melandasi kenapa gue sering gonta-ganti kacamata, terutama ketebalan lensa ini,” telunjuknya menyetuh salah satu lensa kacamatanya yang ia lepas. Ini bocah cekatan juga ngimbangi gaya bicara gue.
“Lo tahu kan Fatimah berkacamata juga.” Gue mengangguk.
“Menurut praktis gue dengan cara itulah gue seenggaknya pede deketin Fatimah.”
“Emang ngaruh, bdo?”
“Tunggu tanggal mainnya,” jawabnya ngeloyor ninggalin gue. Narasumber gue yang ini memang sedikit rada ngartis. SARAP pula lagi. Kebiasaanya selalu nggantungi si lawan bicara. “Bdo, faktor yang keduanya apa?”
Gue sepakat dengan anggapan sepihak gue bahwa ketebalan kacamata gak mesti sejalan dengan pencapaian tingkat akademis yang optimal. Apalagi untuk mereka yang gemarnya baca stensilan, bukan berarti juga pengetahuan mereka canggih, kecuali untuk lintas 3gp (term teknologi visual yang sebaiknya dijauhkan dari jangkauan anak-anak dibawah umur 20 tahun – bukan tontonan).


****
Setelah Lulus
Nuansa anak baru lulus SMA masih menempel di pundak gue. Dengan sangat berbangga gue, mereka yang segolongan dengan gue akan mudah mengenal nama gue walau gue gak mengenalkan diri sebelumnya. Itu karena huruf bercetak latin di atas saku kanan seragam putih abu-abu tertera nama gue SATRIO PF. Gue pernah protes waktu menerima embleman bordir nama itu di koperasi, tiga tahun silam. “Bu, kok nama saya malah SATRIO BF?!” Wajar kalau gue kebawa emosi. Dua abjad terakhir itu mengkonotasikan negative ke gue.
Sekarang gue bukan anak putih abu-abu lagi dan gak lagi nyanyi cintaku bersemi di putih abu-abu. Bentar lagi gue bakal bebas pake celana jin. Baju jin. Kemana-mana jin. Lama-lama gue jadi penggemar jin. Jadi jin deh.
Tidak untuk main-main. Sekali tidak ‘katakan untuk TIDAK! Itu mah semangat lumrah di masa-masa awal kuliah. Gue pengen membantu pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan, kemelaratan ampe tujuh turunan terakhir, kesengsaraan dan gue juga akan menaru peduli pada kaum  galauers bagaimana menyikapi siklus hidup yang kejam ini.
SELAMAT DATANG DI FAKULTAS EKONOMI KAMPUS BIRU.
Oh begini ya tampangnya anak-anak ekonomi. Muka-muka dan gaya-gaya mereka modis, tapi perhitungannya ampun-ampun deh. Hitung-hitungan sih boleh aja, tapi gak sewajarnya juga amal minta kembalian. Ngasih Rp.10.000, kembalian Rp.9.000. Mentang-mentang tag linenya ‘Kembali Kasih.’
Ada lagi yang bikin perasaan heran gue meluap-luap. Kenapa setiap ada pengeluaran perlu di catat dan pemasukan di catat. Perhitungan banget sih. Setidaknya gue menangkap basah salah seorang kakak senior yang beralmamater biru (namanya juga kampus biru, kalo ijo-ijo jadi kolor ijo donk) sedang mencatat setiap pengeluaran dan gue memang belum tahu apa-apa seputar catat mencatat.
“Kak, emang perlu dicatat ya?” Meski pertanyaan bodoh gue tetap harus bertanya. “Iya donk dik,” jawab kakak itu tanpa menoleh ke gue.
“Buat apa sih kak?”
“Buat dicatat donk dik.”
“Emang kenapa kak?
“Mau tau aja atau mau tau banget?”
“Dua-duanya kak.”
“Woy, singkirkan ini bocah jauh-jauh dari gue!!!” Suara kakak menghamburkan kakak-kakak yang lain yang sedang ngopi-ngopi, ngteh-ngteh  dan sebagian photo-photo pose alay.
Gue gak ngerti kenapa sejurus kemudian gue dievakuasi secara paksa. Oke, hal itu  adalah catatan awal gue kenapa selalu ada pencatatan di setiap pengeluaran dan pemasukan. Gue akan segera tahu jelasnya alasan kakak itu catat mencatat.
Peristiwa lain gue temui di malam inagurasi. Denger-denger sih malam pementasan gila-gilaan. ORANG-ORANG ‘GILA’ unjuk GIGI GTU? Gak peduli mau malam gila-gilaan atau kesurupan setan gila, terus kuliah bareng orang yang rada gila ampe yang gila akut, bagi gue kuliah di kampus Biru ada motif yang menyertai langkah-langkah gue ke depan. Tentunya gue sangat pandai menutupi dari jangkauan otak-otak cerdik bonyok gue. Bonyok gue lebih cerdik dari seekor kancil yang mencuri di ladang pak Mahmod.
Di mana-mana mahasiswa yang ngambil fakultas Ekonomi untuk jadi seorang ekonom, akuntan, manajer, atau pengganti presiden periode berikutnya, lah ini gue justru terobsesi menjadi traveling backpacker. Gak ada nyambung-nyambungnya pisan. Nanti gue nyambung-nyambungin sendiri deh. Gak tahu itu obsesi tiba-tiba aja ngotot ngedahului cita-cita semula gue yang pengen banget jadi ustadz komedi.  Jama’ah oh jama’ah…Alhamdulillah. Apakah ini merupakan prestasi awal gue atau bukan, banyak kakak-kakak kelas yang sok akrab ke gue. Mulai dari yang mulanya curi-curi pandang, senggol-senggolan, cubit-cubitan, tampar-tamparan, dan untuk yang satu ini gak ada dari mereka kakak-kakak kelas yang cewe cium-ciuman ama gue. BISA MAMPUS DI TEMPAT GUE. Wajar aja sih gue manggil mereka kakak. Yang gak wajar tuh gue panggil mereka eh njing. Di tampol langsung.
Rasa-rasanya baru kemarin gue naik kelas satu, eh sekarang udah melesat aja ke semester satu di  dunia perkampusan. Dunia yang sama sekali jauh dari 180 derajat celcius dari kehidupan gue semasa sekolah dulu. Ngawur itu asoy cuy. Semasa gue belajar bandel-bandelnya jadi anak badung. Eh sama aja ye. Terus, sesuatu yang gak gue engehin ketika telek-teleknya gue di sindir berbagai teori-teori perkuliahan adalah tidak ada manusia yang bisa bertahan dengan khayalannya semata, apalagi sukses karena menghidupkan khayalannya itu dalam tempurung otaknya. Dan rasa-rasanya laju perubahan gue saat ini seperti mengejar SKS - yang semakin ke sana memerlukan daya juang yang tangkas. 
Teori berikutnya adalah draft SKS yang akan gue ambil - cie...cie...Naik semester dua nih.

 Bekasi, 23 April 2014






Sunday, January 19, 2014

Belajar Review Penjaja Cerita Cinta

Oleh Bagus Setyoko Purwo
JUDUL : Penjaja Cerita Cinta
Pengarang : @edi_akhiles
Penerbit :Diva Press, Yogyakarta
Cetakan: Desember 2013
Tebal :192 halaman





Cerita yang menarik selalu muncul karena kemahiran penulisnya (Bagus Setyoko Purwo, 2013)

Selalu saja setiap kali saya hendak membaca, membeli atau sekedar melirik sebuah buku terbaru/lawas, yang saya baca pertama adalah siapakah penulisnya, kedua, apa judul buku itu, ketiga dan selanjutnya memungkinkan saya untuk  membaca lembaran ke lembaran berikutnya meski dalam posisi berdiri atau langsung mengapit buku itu sebagai buku pilihan, lalu menuju rak buku berikutnya –eksekusi selanjutnya transaksi dengan kasir.
Hal demikian saya alami ketika mengetahui bapak Dr. Edi Mulyono, M.Ag akan melaunching buku kumcer pertama beliau. Saya tertarik bukan karena buku kumcer itu akan go public, melainkan ketertarikan saya pada cara beliau  bercerita yang kerap menukilkan, mengadopsi hingga mengkodifikasikan hal-hal baru dengan cara beliau dan saya harus mengetahui pesan-pesan eksplisit, implicit pada setiap yang beliau ceritakan itu. Memang pada akhirnya sebuah karangan yang baik adalah yang mampu mengguggah pembacanya setelah rampung pada lembaran terakhir.
Saya sengaja memfav-kan twit teman-teman yang sudah mengulas buku pak edi untuk bahan pembelajaran saya bagaimana cara mengulas yang baik (objektif, terarah serta dinamis) sebab saya pemula dalam pengulasan karya sastra.
Ada cerita yang dilatarbelakangi oleh pengalaman hidup penulis itu sendiri.Ada pula cerita yang dilatarbelakangi oleh fenomena-fenomena yang merebak. Ada juga cerita yang dilatarbelakangi dari ceritanya orang lain yang dikembangkan sedemikian menarik oleh penulisnya yang dia itu merupakan teman curhatnya atau teman seperjalanan yang kemudian berpisah karena masing-masing menempuh perjalanan yang berbeda. Dan untuk ketiga yang saya ungkapkan diatas itu, kesemuanya memenuhi dalam antologi Penjaja Cerita Cinta.
Saya menaruh kesan justru bukan pada cerpen pak Edi yang pertama, kedua, atau ketiga.Tidak sebagaimana buku antologi cerpen yang beberapa saya baca meletakan cerita andalan diurutan pertama.Mungkin karena Penjaja Cerita Cinta merupakan judul utama dalam buku kumncer beliau itu.Namun saya justru terkesan pada lembaran ke-65, Dijual murah surga seisinya.Jadi acuan saya mengulas buku beliau adalah cerpen-cerpen yang sesuai subjektivitas saya sebagai pembaca kumcer beliau sangat berkesan.
#Dijual Murah Surga Seisinya.Saya jadi ingat petuah-petuah kebajikan selepas menghadiri ceramah, tabligh akbar yang kerap mengumandangkan pentingnya berbuat baik setiap saat. Serampung membaca cerpen itu pikiran saya membuana dan membesitkan tanya; Apa ini bagian langsung dari moment spiritual yang pak Edi alami? Seseorang  berusia lanjut yang dalam cerita itu dikisahkan menghambat pencapaian si aku yang menyuruh May menunggu dipuncak Borobudur. Ada dialog dialektis antara tokoh aku dengan pak tua itu. Tawar menawar yang kurang lebih sama dengan transaksi dipusat oleh-oleh bawah candi, tapi yang berbeda adalah wujud yang sedang ditransaksikan itu. Mahar atau dalam istilah ijazah amalan tertentu baik itu ilmu hikmah atau ilmu makrifat adalah kesanggupan kita memenuhi persyaratan utama, semisal puasa atau bisa dikonversi dalam rupiah.Yang menarik adalah pertemuan kesadaran si aku dalam mengkalkulasikan kisaran pada umur 12 tahun sudah melaksanakan sholat jumat dengan asumsi masa hidup selama 70 tahun.Setelah dikurangi ketemu lamanya perjalanan jumatan yang si aku lakukan selama 58 tahun.Tidak itu saja, kesadaran berbagi yang si aku lakukan dalam bentuk infaq sebesar seribu rupiah, bila dikalikan dengan perjalanan jumaatan itu hasil yang diperoleh setelah banyak keberhasilan yang si aku peroleh hanya dua juta tujuh ratus delapan puluh empat rupiah.
Cerpen ini menganut alur maju dengan setting dua tempat.Ketika pertama si aku mendapati sosok pak tua itu, latar Borobudur dengan pendakian anak-anak tangga ke puncak candi dan kedua dikediaman si aku yang kembali meruang pertemuan bersarat spiritual.Pada kedua keadaan tersebut porsi yang digarap pak Edi terasa imbang.
Tidak berhenti disitu bahwa surga dijual dengan harga murah.Semakin kesana waktu yang si aku lakoni berbuah banyak atas upayanya yang tekun si aku lakukan sampai pada kontemplasi yang menemukan titik spiritual yang menggugah bahwa apa-apa yang si aku telah lakukan dalam berbagai bentuk kebaikan belum sebanding dengan sangat banyak dosa yang telah diperbuat, entah itu yang memang diketahui sebagai dosa atau bukan dosa (hal 72).
Melurus dari yang beliau tulisankan itu saya yakin betul cerpen itu adalah landasan filosofi kemanikan pak Edi dalam banyak project yang beliau motori yang semata-mata beliau niatkan agar semua orang yang mengikuti project-project beliau masuk surga semua. Bukankah “kendaraan” pak Edi yang menghantarkan kita kesurga masih mencukupi untuk siapa saja yang ingin bersama beliau.Dan bagi saya sosok bapak Tua itu adalah Kanjeng Nabi Khidir as yang dengan bebas mendapatkan delegasi dari Tuhan untuk menyerupai siapa pun untuk menemui hamba-hambaNya yang dikehendakinya.
#Menggambar Tubuh MamaSaat membaca judul ini saya berkeyakinan bahwa pak Edi pernah terinspirasi dari cerpen Menggambar Ayah (MA). Saya pembaca karya-karya mas Sulak dan pada sebagaian cerpen beliau saya mempunyai kesan yang mendalam, terlebih karena gaya penuturan beliau yang lugas dan tentu memikat pembaca. Hanya terdapat sedikit kesamaan antara cerpen pak Edi dengan mas Sulak.Terutama pada pergulatan alur cerpen menggambar tubuh mama, pak Edi berjalan dengan lampion cerita pilu seorang anak yang ditinggal wafat ibunya akibat kegeraman para lelaki yang membenci mendiang ayahnya.Sedangkan pada cerpen MA tokoh si ibu justru tidak menginginkan anaknya lahir karena kecerobohannya kala tidur dengan banyak lelaki.Terdapat dua perangai yang berlawanan antara tokoh ibu Menggambar tubuh mama yang sangat memproteksi anaknya dari intimidasi kekerasan dengan tokoh ibu Menggambar Ayah yang malah meracuni janin dikandungan si ibu yang sadis. Kesadisan yang berbeda konflik namun dengan begitu kesadisan yang marak terjadi saat ini mengajarkan kita untuk tidak seperti itu.
Apa yang sama? Kesamaan yang saya temukan dalam cerpen ini adalah sama-sama berakhir dengan kesunyian diri. Si anak tidak lagi menjumpai ibunya dalam kehidupan nyata, yang otomatis tidak lagi mendapatkan limpahan curahan kasih sayang sang ibu.
Cerpen menggambar mama meski dikayai dengan diksi-diksi yang menawan, namun bila tidak cukup ketat memilih diksi yang dipadukan dalam rangkaian kalimat selanjutnya akan terasa mengganggu imajinasi pembaca seperti hitungan milidetik bak laju M-1 VR46 (hal. 73) dan pada ending yang pak Edi tulis terasa agak tidak koheren dengan alur cerita (Desau angin melengking berderik-derik penuh luka dan tangis di seantero gurun pasir).Padahal sejak awal cerita pak Edi tidak memilih tanah arab sebagai settingnya.Dengan demikian keyakinan saya tak salah jika pak Edi memang pernah terinspirasi karya mas A.S. Laksana itu, yang dikenal juga dengan sebutan mas Sulak –bagi teman-teman sesama penulis.
#Tak Tunggu Balimu.Tema dasar cerpen ini menurut saya adalah filsafat hermeutika.Sepertinya ini curcol pak Edi ketika menempuh mata kuliah Prof Amin Abdullah.Seketika saja saya teringat konsep antroposentris yang diperkenalkan oleh Prof Musa Asyari.Si aku menceritakan betapa menyebalkan sosok yang digambarkan adalah seorang anak yang menyebalkan, yang selalu meledek si aku.Tidak ada konflik perseteruan yang menegangkan pada cerpen itu.Cerpen tersebut lebih condong menyoroti sisi intim dari hermeutis beserta tokohnya.Saya tidak mempunyai kesan yang mendalam setelah mengusai lembar terakhir cerpen itu kecuali kilas balik kajian filsafat dari segmen yang telah saya ketahui.
#Si x, Si x And God. Jangan berharap untuk mendapatkan setting cerita yang menggoda, indahnya sebuah tempat dengan taburan pelangi kata-kata ciptaan sang penulis itu. Tidak akan ditemukan secuil pun di cerpen itu. Ini adalah cara pak Edi menyampaikan gagasan inspiratif tanpa menghadirkan indahnya metaphor kata-kata – tidak berlaku majas dalam hal ini. Sejak awal cerita ini berlangsung sudah menunjukkan narasi percakapan yang nyinyir.Menyinggung orang ekonomi yang malah perekonomiannya tidak mapan.Mindset, baik itu dalam hal kecil atau besar adalah cikal bakal yang membentuk hasil diakhirnya.Yang menarik dari percakapan dua arah ini adalah keterbukaan pikiran untuk menerima kekurangan diri dalam mengarifi kehidupan.Bahwa sesungguhnya kehidupan itu adalah mindset yang terkonkretkan dalam bentuk aktivitas-aktivitas yang produktif, namun tokoh kedua kamu dalam cerpen itu rupanya belum bisa membedakan mana itu konkret dan abstrak.Melalui pertukaran pikiran dikeduanya hingga pembuktian keterlibatan, kehadiran Tuhan – melalui sholat.Kesan yang menakjubkan justru saya peroleh pada ide dasar mindset dengan polesan dialog-dialog edukatif yang menggugah.
#Love Is Ketek, #Secangkir Kopi Untuk Tuhan, #Cinta Cantik. Tiga judul itu adalah cerpen-cerpen yang secara ide menarik, namun dalam penggarapannya agak tidak memperhatikan penyertaan kosakata.Sebagaimana cerita yang menarik sejak permulaan paragraph kata-kata yang diusung adalah kata-kata yang menggoda dan nyaman untuk dibaca. Pada Love is Ketek. Ide dasarnya adalah bau badan si kekasih.Hanya karena BB maka hubungannya pun terancam bubar.Menarik.Sebagaimana percintaan anak muda yang kerap dirundung masalah keegoan, maka cerpen ini mewakili permasalahan keharmonisan percintaan.Namun sangat disayangkan bobot konflik yang dinarasikan kurang maksimal.Terlebih cerpen ini bergenre humor – untuk genre ini pak Edi belum berhasil menarasikan humor meski judul yang beliau gunakan adalah bernada guyon.
Secangkir kopi untuk Tuhan.Cerpen yang berlatar Malaysia berkabut duka atas meninggalnya raider dunia Marco Simoncelli.Nuansa duka yang begitu mendalam seperti tidak ada yang mampu menyeka si aku atas kesedihannya.Bahkan kesedihan yang menjadi-menjadi membuat si aku tidak bergairah ngapa-ngapain.Dramatisasi yang bagus ternarasikan dengan sempurna sebagai kepiluan si aku.Saya suka visualisasi dramatisir yang pak Edi tuliskan dengan tempo cerita yang kalem hingga mengakhirinya dengan meninggalkan Negara Jiran – menyapu bersih kesedihan yang mendalam atas peristiwa itu.
Cinta Cantik. Cerita tentang perempuan cantik, perempuan seksi, perempuan dari berbagai segi kemolekannya adalah cerita yang tidak pernah habis dalam satu obrolan, dalam satu cangkir kopi atau dalam satu bungkus hisapan rokok.Sebuah realitas seorang anak muda yang mendambakan sosok perempuan cantik yang tiba-tiba muncul dalam mimpinya. Terjadilah dialog dialam bawah sadarnya. Dan kesimpulan dialog di alam itu adalah tidak cukup murah alias mahal untuk mendapatkan perempuan itu. Saya menikmati setiap pergeseran plot sambil membayangkan betapa tidak beruntungnya anak muda itu. Sebelum mendapatkan yang nyata, kesiapan secara materi terbukti tidak lulus ketika ia berjumpa dengan perempuan itu di alam mimpi.
#Tamparan Tuhan, #Abah, I Love You, #Lengking Hati Seorang Ibu yang ditinggal mati anaknya, #Aku Bukan Batu
Cerita-cerita yang berkisah dari masa lalu biasanya ditulis dengan sisi-sisi kenyamanan si penulisnya.Cerita-cerita itu beriringan mengandeng kalimat-kalimat, frase-frase yang menerangkan bagaimana itu bisa terjadi, kapan itu terjadi, kenapa itu bisa terjadi, dan siapakah yang dimaksud dalam cerita itu.Ketiga cerita di atas pandangan saya pasti cerita nyata dari sekian banyak peristiwa yang pak Edi alami.Hanya saja pada cerpen tamparan Tuhan muatan yang terkandung adalah pantulan dari kehidupan manusia. Jelas maksud dari muatan itu: bila manusai baik maka akan menjadi baik semuanya.
Begitu juga dengan cerpen Abah, I Love You. Cerita yang menyaratkan ketidaksukaan penulis kala masa-masa kecilnya, remajanya yang terkekang oleh idealism Abah yang belum ia mengerti. Memang begitulah kelemahan seorang anak yang tidak akan pernah mampu menangkap maksud-maksud baik orang tua sebelum kebaikan-kebaikan yang orang tua dambakan terjadi. Cerpen itu bergerak dengan alur yang urut.Menceritakan masa lalu yang dengan jalan waktu bertemu dengan waktu terbaik yang menjawab semua yang selama ini abah lakukan padanya.
Cerita lengking hati seorang ibu yang ditinggal mati anaknya.Cerita yang menyiratkan ketidaksiapan ibu menerima kenyataan anaknya meninggal.Bagi saya cerita ini cukup berkesan.Melalui bahasa keibuan yang rela menggantikan nyawa anaknya demi keberlangsungan si anak hidup di dunia.
Cerpen aku bukan batu, menggambarkan kesejatian manusia yang sesungguhnya adalah makhluk Tuhan yang terus menghamba dan beribadah pada-Nya.Saya hanya menemukan beberapa kata yang agak merusak jalan cerita seperti Blesssss, Brunggg, Bleeppp.
Semua cerita yang pak Edi tuliskan secara gagasan telah banyak mengispiratif saya.Cerpen pertama penjaja cerita cinta.Di dalamnya pak Edi menyiratkan kesetiaan yang penuh pada sosok yang kita cintai.Sejalan dengan kesetiaan yang terucap maka ujian-ujian kesetiaan dalam bentuk rindu, perpisahan dan kenangan mesti bisa dilalui dengan sempurna. Penyampaian yang pak Edi gunakan sebagai narrator tunggal si tukang cerita itu meninggatkan saya dengan cerpen legenda wong asuh karya Seno GA. Sama-sama mengambil tema si tukang cerita yang bertutur.
Saya memahami “kenakalan-kenakalan” bahasa yang pak Edi gunakan sebagai style beliau yang secara usia masih tujuh belas tahun. Artinya masih sangat pantas menyinggung pornografi, seksualitas, perselingkuhan dan setarafnya. Pak Edi pada beberapa cerita yang saya anggap blak-blakan seperti dicerpen Cerita sebuah kemaluan ; alat vital bukan lagi hal yang tabu bila memasuki ruang sastra. Perselingkuhan seperti dalam cerita munyuk bukan lagi hal yang tabu, namun telah menjadi gaya hidup popular orang-orang hedon.
Kekaguman saya pada beliau terletak pada kemahiran beliau dalam merekayasa gagasan, menyulap kata-kata, mengawinkan kosakata satu dengan yang lain yang kemudian beranak pinak menjadi cerita yang menarik. Namun ternyata dalam perkembangbiakan anak-anak dari kosakata induk perlu selektif dalam penggunaannya terutama untuk keutuhan makna dari cerpen-cerpen pak Edi akhiles – yang saya tahu betul bahwa kiprah beliau dalam dunia literasi sudah sangat mumpuni.Mohon maaf bila banyak yang tidak berkenan atas ulasan yang saya buat ini.

Salam takzim saya
Bagus Setyoko Purwo











Sunday, December 15, 2013

Belajar Mengulas: Menggambar Ayah, lalu Menggambar Tubuh Mama

Belajar Mengulas: Menggambar Ayah, lalu Menggambar Tubuh Mama
Bagus Setyoko Purwo
@bagusbukansetan

Ini kali pertama saya belajar mengulas sebuah cerpen dari antologi tunggal karya bapak Edi Akhiles. Ketika saya menerima kiriman buku itu, halaman yang saya amati adalah halaman ke-8, daftar isi yang menerangkan ada tujuh belas cerpen –yang menurut saya ketujuh belas cerpen tersebut sudah pasti cerpen-cerpen pilihan. Pada ulasan yang saya sampaikan, pada dasarnya bukan pada “penilaian” yang seolah-olah saya kritikus sastra yang mapan. Bukan itu. Saya hanya sedang belajar bagaimana menyampaikan sesuatu yang mudah dimengerti tanpa mesti melisankan. Mohon maklumnya-teruntuk Shohibul karya, Bapak Edy Akhiles.

Adopsi Kisah
Sepanjang yang saya ketahui dalam proses kreatif penciptaan sebuah cerpen, paling tidak ada tiga landasan utama yang mesti ada pada seorang cerpenis atau yang baru akan membuat cerita.

Pertama, ide. Pembahasan ide saya rasa sudah tidak perlu diulas secara mendetail. Siapa pun kita, bahkan yang bukan penulis ketika melakukan aktivitas pastilah ada ide yang menyertai jalannya aktivitas. Tentu bagi penulis ide adalah barang mahal atau bisa aja suatu ketika ada sebuah “pasar” yang memperjual belikan ide. Sebagai wujud bahwa ide adalah komoditas langka bagi banyak orang.

Kedua, pengetahuan. Saya pernah menerima input dari Cak Nun tentang tipologi orang. Ada orang yang sedikit tahu tentang banyak hal. Ada orang yang banyak tahu tentang sedikit hal dan ada orang yang banyak tahu tentang banyak hal. Perhatikan logika ketiga pernyataan diatas itu. Pengetahuan mutlak menjadi bekal kita tidak pada hanya profesi menulis. Terlebih pada seorang penulis, pada posisi manakah yang ideal baginya.

Ketiga, kontiunitas. Berkesinambungan. Sudah bukan lagi rahasia kehidupan bahwa pada pencapaian kesuksesaan para penulis ternama letak kerja kontiu adalah kunci gerbang keberhasilan. Seingat saya mas A.S Laksana pernah menyampaikan: ‘Sisihkan lima atau sepuluh menit waktu anda; ambillah kertas dan pena, dan menulislah’. Jadi, penulis memang memerlukan waktu khusus yang tetap menulis, untuk tetap menyelesaikan naskah, dan untuk tetap teguh dalam kepenulisan dimanapun ia berada.

Saya tertarik membaca cerpen pak Edy yang berjudul Menggambar Tubuh Mama. Saya baca kata perkata. Saya cermati kausalitas kisah yang berlangsung di dalamnya. Pada setiap pergantian alenia yang tidak pernah sepi dari diksi-diksi yang menggoda. Pada setiap tutur dialog yang tak jarang membuat saya terpukau – drama heroik keluarga.

Pak Edy sedang berkisah dalam empat lembar halaman bolak balik. Cerpen yang pak Edy tuliskan sangat menarik dari segi diksi. Dari tema yang beliau angkat, yang kurang lebihnya saya menganggap cerpen itu berlatar realis. Sebuah siklus kehidupan yang entah pada peristiwa diwaktu kapan menemui kesialan hidup. Saya sebut tokoh aku yang mengalami peristiwa kekerasan dalam bentuk visual –menyaksikan ibunya “dihantam” dengan perlakuan yang tidak manusiawi. Lantas sebagai bentuk rasa rindu yang menyekap didalam diri si aku itu, ia menggoreskan beberapa kapur yang dibeli untuknya dari sang mama. Pergulatan konflik realis yang memilukan.

Ia semakin memperjelas sosok sang ibu dengan menebalkan goresan kapur pertama, yang dengan begitu ia anggap bisa mewakili sosok ibu secara nyata. Namanya juga imajinasi anak kecil. Hingga pada ending yang mendramatisir takdir dari Sang Maha Kuasa, dia inginkan mama –inginkan mama hadir kembali dalam kehidupan nyata.

Lain dari kisah itu, saya terkesan dengan cerpen terbaik pilihan Kompas tahun 1998 yang berjudul Menggambar Ayah (MA). Karya mas A.S. Laksana yang kurang lebih sama dengan sedikit plot yang pak Edy garap di cerpen Menggambar Tubuh Mama (MTA). Saya melihat ada sejenis adopsi kisah yang pada Edy gunakan (kalau saya tidak salah duga). Hanya saja pak Edy menggarap dengan cara yang berbeda. Letak detail yang pak Edy sajikan dalam cerpen itu tidak sebagaimana cerpen MA. Mungkin saja pak Edy saya mengambil beberapa keunikan dari cerpen MA.
Dalam cerpen MA –masih dalam konteks yang sama pada bagian plot cerpen MTA, si aku yang mengisahkan pilunya menjadi anak yang tidak diharapkan oleh sang ibu lahir kedunia sebagai akibat dari pergumulannya dengan “ular-ular” yang melilit dirinya. Sejak awal si aku itu sudah mendapatkan perlakuan yang sedemikian keras oleh sang ibu. Dari mulai membenamkan banyak obat sampai upaya-upaya yang bisa menggagalkan si aku lahir dengan selamat. Namun berkat dukungan teman-teman malaikat akhirnya si aku lahir dengan kondisi yang memperihatinkan.
Singkatnya si aku dalam cerpen MA berakhir serupa dengan cerpen MTA – sama sama kehilangan sosok mama, walaupun perbedaan pada tokoh mama itu cerpen MA si mama pergi meninggalkan dirinya dengan menempuh puncak gunung dan pada cerpen MTA mama mati dengan cara tragis.

Apa yang bisa didapat dari kedua cerpen itu? Saya memandang bahwa pencapaian jalan cerita sebuah cerpen yang berkesan bisa diperoleh dengan mengadopsi ide dari cerpen sebelumnya dengan menambah beberapa point yang berbeda atau mengubah selain ide cerita sebelumnya. Saya mencoba menduga bahwa pak Edy sedang “bermain-main” dalam dunia kreativitasnya yang sangat memungkinkan bagi beliau untuk menggarap ide cerpen mas A.S. Laksana dengan kepiawaian beliau memilih diksi-diksi yang memukau. Namun dengan kecermatan dan ketelitian pak Edy dalam mengumbar rangkaian diksi yang memikat itu, saya merasakan jalan cerita cerpen menggambar tubuh mama lebih mengesankan bila pak Edy lebih sangat selektif lagi memunculkan metaphor-metafor kata. Su’ul adab rasanya bila saya mengomentari karya pak Edy lebih sangat kritis lagi. Padahal saya hanya pembaca biasa yang sampai sekarang masih memegang teguh kata-kata mas A.S. Laksana, kurang lebihnya, ‘berceritalah kamu sebagaimana kamu berkata-kata (berbicara)’ .
Saya membayangkan bila pak Edy suatu waktu membacakan cerpen Menggambar Tubuh Mama di acara Kampus Fiksi regular atau roadshow, dan kemudian pak Edy juga membacakan cerpen Menggambar Ayah – manakah kesan yang mudah diserap oleh pendengar dari dua cerpen maestro cerpenis itu?
Baik Pak Edy Akhiles dan Mas A.S. Laksana adalah dua sosok yang saya kagumi dan ikuti bagaimana beliau-beliau itu menyampaikan kisah dalam tulisan yang seolah-olah sedang berkata-kata….

Salam Takzim saya
Ilahadroti Pak Edi Akhiles wa shohibul Diva Press wa Kampus Fiksi, al fatehah
Kampung Jawa, 16 Desember 2013

Friday, December 13, 2013

#Kampus Fiksi

Oleh Bagus Setyoko Purwo

Revolusi terbaru, tidak melulu pada kekuasaan politis.
Revolusi sudah jelas untuk pembaharuan.
Dan untuk revolusi yang ini hanya ada diwilayah Indonesia tepat di kota Jogjakarta.